Senin, 08 April 2013

Analisis Tentang Teori Behavioristik

Kaum behavioris menjelaskan bahwa belajar sebagai suatu proses perubahan tingkah laku  dimana reinforcement dan punishment menjadi stimulus untuk merangsang pebelajar dalam  berperilaku. Pendidik yang masih menggunakan kerangka behavioristik biasanya merencanakan kurikulum dengan menyusun isi pengetahuan menjadi bagian-bagian kecil yang ditandai dengan suatu keterampilan tertentu. Kemudian, bagian-bagian tersebut disusun secara hirarki, dari yang sederhana sampai yang komplek (Paul, 1997).

Pandangan teori behavioristik telah cukup lama dianut oleh para pendidik. Namun dari semua

teori yang ada, teori Skinnerlah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori
belajar behavioristik. Program-program pembelajaran seperti Teaching Machine, Pembelajaran berprogram, modul dan program-program pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan stimulus-respons serta mementingkan faktor-faktor penguat (reinforcement), merupakan program pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang dikemukakan Skiner.


Teori behavioristik banyak dikritik karena seringkali tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, sebab banyak variabel atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan dan/atau belajar yang dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon. Teori ini tidak mampu menjelaskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam hubungan stimulus dan respon.


Pandangan behavioristik juga kurang dapat menjelaskan adanya variasi tingkat emosi pebelajar, walaupun mereka memiliki pengalaman penguatan yang sama. Pandangan ini tidak dapat menjelaskan mengapa dua anak yang mempunyai kemampuan dan pengalaman penguatan yang relatif sama, ternyata perilakunya terhadap suatu pelajaran berbeda, juga dalam memilih tugas sangat berbeda tingkat kesulitannya. Pandangan behavioristik hanya mengakui adanya stimulus dan respon yang dapat diamati. Mereka tidak memperhatikan adanya pengaruh pikiran atau perasaan yang mempertemukan unsur-unsur yang diamati tersebut.


Teori behavioristik juga cenderung mengarahkan pebelajar untuk berfikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif. Pandangan teori ini bahwa belajar merupakan proses pembentukan atau shaping, yaitu membawa pebelajar menuju atau mencapai target tertentu, sehingga menjadikan peserta didik tidak bebas berkreasi dan berimajinasi. Padahal banyak faktor yang mempengaruhi proses belajar, proses belajar tidak sekedar pembentukan ataushaping.


Skinner dan tokoh-tokoh lain pendukung teori behavioristik memang tidak menganjurkan digunakannya hukuman dalam kegiatan pembelajaran. Namun apa yang mereka sebut dengan penguat negatif (negative reinforcement) cenderung membatasi pebelajar untuk berpikir dan berimajinasi.


Menurut Guthrie hukuman memegang peranan penting dalam proses belajar. Namun ada  beberapa alasan mengapa Skinner tidak sependapat dengan Guthrie, yaitu:
• Pengaruh hukuman terhadap perubahan tingkah laku sangat bersifat  sementara;
• Dampak psikologis yang buruk mungkin akan terkondisi (menjadi bagian dari  jiwa si terhukum) bila hukuman berlangsung lama;
• Hukuman yang mendorong si terhukum untuk mencari cara lain (meskipun salah dan buruk) agar ia terbebas dari hukuman. Dengan kata lain, hukuman dapat mendorong si terhukum melakukan hal-hal lain yang kadangkala lebih buruk daripada kesalahan yang diperbuatnya.

Skinner lebih percaya kepada apa yang disebut sebagai penguat negatif. Penguat negatif tidak sama dengan hukuman. Ketidaksamaannya terletak pada bila hukuman harus diberikan (sebagai stimulus) agar respon yang muncul berbeda dengan respon yang sudah ada, sedangkan penguat negatif (sebagai stimulus) harus dikurangi agar respon yang sama menjadi semakin kuat. Misalnya, seorang pebelajar perlu dihukum karena melakukan kesalahan. Jika pebelajar tersebut masih saja melakukan kesalahan, maka hukuman harus ditambahkan. Tetapi jika sesuatu tidak mengenakkan pebelajar (sehingga ia melakukan kesalahan) dikurangi (bukan malah ditambah) dan pengurangan ini mendorong pebelajar untuk memperbaiki kesalahannya, maka inilah yang disebut penguatan negatif. Lawan dari penguatan negatif adalah penguatan positif (positive reinforcement). Keduanya bertujuan untuk memperkuat respon. Namun bedanya adalah penguat  positif menambah, sedangkan penguat negatif adalah mengurangi agar memperkuat respons.

Minggu, 07 April 2013

Teori Belajar Behavior


Banyak  teori tentang belajar yang telah berkembang mulai abad ke 19 sampai sekarang ini. Pada awal abad ke-19 teori belajar yang berkembang pesat dan memberi banyak sumbangan terhadap para ahli psikologi adalah teori belajar tingkah laku (behaviorisme) yang awal mulanya dikembangkan  oleh psikolog Rusia Ivan Pavlav (tahun 1900-an) dengan teorinya yang dikenal dengan istilah pengkondisian klasik (classical conditioning) dan kemudian teori belajar tingkah laku ini dikembangkan oleh beberapa ahli psikologi yang lain seperti Edward Thorndike, B.F Skinner dan Gestalt.
Teori belajar behaviorisme ini berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati. Pengulangan dan pelatihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan. Hasil yang diharapkan dari penerapan teori behavioristik ini adalah terbentuknya suatu perilaku yang diinginkan. Perilaku yang diinginkan mendapat penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai mendapat penghargaan negatif. Evaluasi atau Penilaian didasari atas perilaku yang tampak. Dalam teori belajar ini guru tidak banyak memberikan ceramah,tetapi instruksi singkat yang diikuti contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui simulasi.
Di awal abad 20 sampai sekarang ini teori belajar behaviorisme mulai ditinggalkan dan banyak ahli psikologi yang baru lebih mengembangkan teori belajar kognitif dengan asumsi dasar bahwa kognisi mempengaruhi prilaku. Penekanan kognitif menjadi basis bagi pendekatan untuk pembelajaran. Walaupun teori belajar tigkah laku mulai ditinggalkan diabad ini, namun mengkolaborasikan teori ini dengan teori belajar kognitif dan teori belajar lainnya sangat penting untuk menciptakan pendekatan pembelajaran yang cocok dan efektif, karena pada dasarnya tidak ada satu pun teori belajar yang betul-betul cocok  untuk menciptakan sebuah pendekatan pembelajaran yang pas dan efektif.
           Behaviorisme merupakan salah satu aliran psikologi yang memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek – aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam proses balajar. Tujuan utama psikologi membuat prediksi dan mengendalikan prilaku dan sedikitpun tidak ada kaitannya dengan kesadaran.
         Thorndike menggambarkan proses belajar sebagai proses pemecahan masalah (problem solving). Dalam penyelidikan tentang proses belajar, pelajar harus diberi persoalan, dalam hal ini thorndike melakukan eksperimen dengn sebuah puzzelebox.
         Teori behaviorisme Skinner adalah Pengkondisian operan (kondisioning operan). Pengkondisian operan adalah sebentuk pembelajaran dimana konsekuensi-konsekuensi dari prilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas prilaku itu akan diulangi.

Teori Belajar Menurut Thorndike

Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Jadi perubahan tingkah laku akibat kegiatan belajar dapat berwujud konkrit, yaitu yang dapat diamati, atau tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku yang tidak dapat diamati. Teori Thorndike ini disebut pula dengan teori koneksionisme (Slavin, 2000).

Ada tiga hukum belajar yang utama, menurut Thorndike yakni:
1)  hukum efek;
2)  hukum latihan dan
3)  hukum kesiapan (Bell, Gredler, 1991).
Ketiga hukum ini menjelaskan bagaimana hal-hal tertentu dapat memperkuat respon.

Rabu, 06 Maret 2013

Persiapan Pengelasan

Dalam melakukan pengelasan, hal yang penting harus dilak­ukan sebelumnya adalah persiapan-persiapan untuk mendukung kelancaran dan keselamatan dalam pelaksanaan pengelasan tersebut. Mutu dan basil pengelasan disamping tergantung dari pengerjaan lasnya juga sangat tergantung dari persiapan sebelum pelaksanaan pengelasan. Kelancaran dan efektivitas hasil pengelasan juga ditentukan oleh persiapan pelaksanaan pengelasan, karena dari persiapan yang matang, tersedianya peralatan/penlengkapan dan mudahnya menjangkau penlengkapan disekitar tempat kerja las akan mempenlancar produktivitas hasil kerja las yang lebih besar. Karena itu persiapan pengelasan harus terdapat perhatiaan dan pengawasan yang mama dengan pelaksanaan pengejasan las itu sendiri. Persiapan­persiapan tersebut antara lain terdiri dari :
1.  Persiapan Teoritis
2.  Persiapan Praktis


1. Persiapan Teoritis
Untuk menghasilkan sambungan las yang sempurna/baik, maka sebagai pelaksana pengelasan secara teoritis harus sudah mengetahui atau memahami hal-hal sebagai benikut:
a.  Pengertian dasar pengelasan listrik yang baik. Misalnya: Mengetahui berbagai jenis kampuh las dan segala ukurannya, mengetahui cara pengaturan arus pada setiap alur las dan segala akibatnya, dapat memilih elektroda sesusi dengan maksud dan tujuan dari pengelasan.
b. Pengertian tentang segi-segi keselamatan kerja sehubungan dengan pelaksanaan pengelasan. Misalnya: segi-segi yang menyangkut keselamatan manusia dan langkah-langkah pence­gahan kecelakaan dan hal-hal lain yang perlu untuk menjamin cara pengelasan yang memenuhi syarat-syarat kesehatan. Segi-segi keselamatan yang menyangkut manusia disini adalah termasuk resiko pelaksanaan pengelasan yang membahayakan masyarakat umum.
c.   Pengertian secukupnya cara membaca gambar konstruksi, membuat sketsa, mengukur konstruksi dan sebagainya.
d.   Pengertian sedikit tentang ilmu bahan. Misalnya: penyam­bungan yang benar antara dua bahan yang berbeda, mengeta­hui jenis-jenis elektroda sesusi dengan penggunaannya, pergerakan bahan akibat panas (up-setting) dan penghapusan tegangan sisa (residual stress).

2.   Persiapan Praktis
Persiapan praktis yang dimaksud adalah persiapan-persi­apan yang harus dilakukan sebelum pelaksanaan/praktek las dilakukan. Persiapan praktis ini antara lain adalah persiapan peralatan, yang meliputi alat-alat baku (utama), alat-alat keselamatan dan alat-alat bantu (tidak pokok).
a.   Alat-alat baku, misalnya: Mesin las (transformer dan generator), tangkai/pemegang elektroda, penjepit benda kerja,  kabel las dan elektroda las.
b.  Alat-alat keselamatan/perlengkapan kerja personal, misalnya: topeng las dengan kaca hitam nomor 9, sarung tangan las, pelindung dada/apron dari kulit, ketel pak dengan leher yang dapat ditutup, tempat elektroda, martil biasa, martil terak, sikat baja, kapur las, waterpas, sikat baja, tang las.
c.   Alat-alat keselamatan umum, seperti blower (untuk menghisap asap las), alat pemadam kebakaran, tabir air (water screen), lampu sorot, alat pelindung nyala dan lain-lain.
d.   Alat-alat bantu lainnyn, seperti gerinda listrik dan sumber listriknya, botol angin, botol acetylene, dongkrak pipa, tang pengukur arus, pengatur arus dan lain-lainnya.

Semua peralatan yang dipersiapkan tersebut di atas harus diperiksa terlebih dahulu dengan teliti dan hati-hati, sehingga kita sudah merasa yakin bahwa semua peralatan dalam kondisi sebaik-baiknya dan siap untuk digunakan. Seperti pemeriksaan kabel-kabel las listrik dan sambungan-sambungan kabel las. Kabel las tidak boleh bocor, karena kabel yang bocor bila menempel pada logam dapat menimbulkan loncatan busur listrik. Loncatan busur listrik ditempat yang tidak bergeser akan mencairkan metal ditempat loncatan busur listrik tersebut berada dan lama-kelamaan dapat menembus metal tersebut. Begitu ,juga sambungan-sambungan kabel las harus dalam kondisi sebaik-baiknya sehingga tidak menimbulkan kebocoran busur listrik yang membahayakan.
Persiapan selanjutnya berupa pembersihan tempat kerja, pengaturan peralatan-peralatan sedemikian rupa sehingga memudahkan pelaksanaan pengelasan. Tidak kalah pentingnya adalah pemeriksaan daerah tempat bekerja. Apakah daerah tempat bekeria benar-benar sudah aman dari berbagai kemnngkinan terjadinya kecelakaan akibat pelak­sanaan pengelasan seperti bahaya kebakaran misalnya, harus benar-benar diperhatikan juga oleh pihak pengawas maupun pelaksana pengelasan.

Setelah semua persiapan tersebut di atas siap untuk dilaksanakan, maka kampuh las dibersihkan dari berbagai jenis kotoran, seperti karat, cat, air, garam dan lain-lain, sebab kampuh yang kotor menyebabkan pengelasan tidak sempurna, bahan. yang dilas tidak dapat menyatu dengan baik.





Selasa, 05 Maret 2013

Pengelasan dengan Busur Listrik Nyala Terlindung (Shielded Metal Arc Welding-SMAW)


Dikatakan las busur nyala listrik karena metode las ini menggunakan suhu busur nyala listrik yang tinggi sebagai sumber panas. Untuk pengelasan dapat digunakan baik arus searah maupun arus bolak-balik. Kutup sumber yang satu dihubungkan dengan benda kerja, kutup yang lain dengan elektrode. Dalam pembahasan las busur ini dibatasi dengan las busur dengan elektrode terbungkus, karena cara pengelasan ini banyak digunakanan.

Prinsip  pengelasan busur nyala listrik adalah sebagai berikut: “Jika dua metal yang konduktif dialiri arus listrik yang cukup padat (dense) dengan tegangan yang relatif rendah akan menghasilkan loncatan elektron yang menimbulkan panas amat tinggi, yang dapat mencapai di atas 9.000ºF (5.000ºC)  sehingga dengan mudah/cepat dapat mencairkan kedua metal tersebut , maka  kejala alam ini dimanfaatkan untuk keperluan penyambungan dna metal yang lazim disebut las. Arus listrik yang dipakai berkisar antara 10 sampai 500 Ampere. Selanjutnya demi keselamatan pengelas, maka tegangan yang dipakai antara 17 sampai 45 volt. Arus listrik yang digunakan dapat arus listrik searah (Direct Current/DC) atan arus listrik tak searah (Alternating Current/AC) tergantung pada keperluannya.

Pengelasan dengan busur nyala listrik terlindung yang dimaksud ada1ah pengelasan yang menggunakan batang elektroda terbungkus. Pengelasan dengan menggunakan elektroda terbungkus ini merupakan cara pengelasan yang paling banyak digunakan dewasa ini. Dalam pengelasan ini digunakan elektroda logam yang dibungkus/dilapisi o1eh fluks. Dari Gambar tersebut dapat dilihat dengan jelas, bahwa busur listrik timbul diantara logam induk dan ujung elektroda. Karena busur yang ditimbulkan ini mempunyai suhu yang sangat tiuggi, maka logam induk dan ujung elektroda mencair dan kemudian rnembeku bersama.

Pada jenis las ini selain elektroda berfungsi untuk menimbulkan busur nyala listrik, juga berfungsi sebagai bahan pengisi, sehingga jenis las ini termasuk dalam kelompok las elektroda terumpan
Proses pemindahan logam terjadi pada saat ujung elektroda mencair dan membentuk butir-butir yang terbawa oleh arus busur listrik yang terjadi. Bila digunakan arus listrik yang besar maka butiran logam cair yang terbawa menjadi halus sebaliknya bila arusnya kecil maka butirannya menjadi besar.

Pola pemindahan logam cair seperti diterangkan diatas sangat mempengaruhi sifat mampu las dari logam. Secara umum dapat dikatakan bahwa bahan mempunyai sifat mampu las yang tinggi bila pemindahan terjadi dengan butiran yang halus. Sedangkan pemindahan cairan ini dipengaruhi oleh besar kecilnya arus dan komposisi bahan fluks yang digunakan. Selama proses pengelasan lapisan fluks yang membungkus elektroda ini mencair, karena berat jenisnya yang lebih ringan jika dibanding dengan bahan metal yang dicairkan, maka cairan fluks ini mengapung di atas cairan logam membentuk terak dan bekerja sebagai pelindung terhadap pengaruh oksidasi. Setelah cairan logam tersebut membeku maka cairan terak ini juga ikut membeku dan menu­tup di atas sambungan. Setelab dingin cairan terak ini sangat mudah kita bersihkan dengan menggunakan palu terak. Dalam beberapa fluks bahannya tidak dapat terbakar, tetapi berubah menjadi gas yang juga berfungsi sebagai pelindung logam cair terhadap pengaruh oksidasi.

Di dalam pengelasan jenis ini, hal yang penting adalah bahan elektroda, pembungkus elektrods (fluks) dan jenis arus listrik yang digunakan.

Sabtu, 02 Maret 2013


Las Berdasarkan Panas dan Kombinasi Busur Nyala Listrik dan Gas Kekal (Inert)
1.GMAW (Gas Metal Arc Welding) = Las logarn gas mulia/penge­lasan dengan busur nyala listrik dan gas sering disebut juga las MIG/MAG (Metal Active Gas). Pada las ini, kawat las pengisi/penambah berfungsi sebagai electroda dan di­umpankan secara terus-menerus. Busur nyala listrik terjadi diantara kawat pengisi dan logam induk. Lihat Gambar 2.8. Untuk menghindari pengaruh oksidasi digunakan gas sebagai pelindung, yaitu gas Argon, Helium atau campuran dari keduanya. Karena harga gas Argon cukup mahal maka diupaya­kan gas lain, misalnya campuran Argon dan 02 antara 2 sampai 5% atau CO2 antara 5 sampai 20%. Karena mahalnya harga gas pelindung, maka cara pengelasan ini hanya dipa­kai untuk keperluan khusus. Dan pada pengelasan ini, hasil lasan tidak meninggalkan terak sehingga memudahkan kontrol terhadap kawah lasan dan mengurangi waktu maupun tenaga untuk menghilangkan terak.
2.GTAW (Gas Tungsten Arc Welding) atau lazim disebut Tungsten Inert Gas (TIG) Welding: yaitu pengelasan dengan memakai busur nyala yang dihasilkan oleh elektroda tetap atau tidak terumpan terbuat dari tungsten dengan gas inti sebagai pelindung oksidasi. Lihat Gambar 2.9. Tungsten tidak mencair oleh panasnya busur nyala listrik sehingga tidak terumpan ke dalam lasan. Sedang sebagai bahan penambah digunakan bahan yang sama atau sejenis dengan bahan yang dilas dan terpisah dari pistol/moncong las (welding gun). Gas inti disemburkan ke daerah lasan melalui welding gun sehingga lasan terbebas dan oksidasi. Jenis gas yang sering dipakai adalah gas Argon. Jenis las ini baik untuk penyambungan bahan metal dan bahan campuran yang tipis. Tetapi karena masukan panas (heat input) yang  menentukan daya cair metal relatif kecil, maka jenis pengelasan ini tidak dapat dipakai untuk pelat-pelat yang tebal. Jenis las ini sangat baik untuk pengelasan pertama atau root bead. Hanya jika operasinya salah, di dalam bahan akan kemasukan tungsten (heavy metal).

3.PAW (Plasma Arc Welding) = Las Listrik dengan Plasma adalah sejenis GTAW karena pada dasarnya las ini merupakan penyempurnaan dari las TIG, hanya bahan pelindungnya yang berbeda, yakni campuran antara Argon, Nitrogen (zat lemas) dan Hidrogen (zat air) yang lazim disebut plasma. Plasma adalah gas dengan derajat pengantar arus dan kapasitas termis yang tinggi, sehingga dapat menampung tem­peratur pengelasan jauh di atas 50000C. Plasma pada hake­katnya terdiri dari molekul-molekul, elektron-elektron, dan berbagai ion sebagai hasil pemecahan atom atau molekul. Elektron yang sangat gesit itu dipercepat dengan kenaikan tegangan di dalam berkas nyala plasma, sehingga memberikan sebagian tenaganya sewaktu terjadi tumburan dengan atom-atom gas, sehingga temperatur gas dapat naik hingga mencapai antara 10.000 sampai 20.0000C. Jenis las ini biasanya dipakai untuk pengisian kampuh-kampuh yang besar untuk menyambung benda kerja yang tebal. Jika diper­lukan kecepatan dan bukan kwalitas, maka las plasma lebih ekonomis untuk pelat karbon/mild steel dengan ketebalan 2 inci ke bawah. Plasma untuk gas pelindung ternyata juga sangat baik untuk pemotongan pelat stainless steel, karena hasil pemotonganya terhindar dari pengaruh oksidasi se­hingga disamping tampak bagus dan halus juga tidak menga­lami perubahan struktur material yang berarti. (Sriwidharto, 1987:16).
Las Plasma juga menggunakan elektroda tidak terumpan dari tungsten. Hanya saja, busur nyala listrik tidak muncul diantara elektroda dengan benda kerja tetapi muncul dian­tara ujung elektroda dengan gas inti (plasma) yang mengalir di sekitarnya. Las plasma lebih baik dari las tungsten karena busur nyala listrik yang muncul lebih stabil dengan diameter lebih kecil sehingga panasnya lebih terpusat dan proses pengelasan menjadi lebih cepat.

4.EGW (Electro Gas Welding) adalah jenis las MIG yang otoma­tis dan hanya dipakai untuk posisi pengelasan vertikal saja. 




Jumat, 01 Maret 2013


Las Berdasarkan Panas Tenaga Listrik
1. SMAW (Shielded Metal Arc Welding) = las busur nyala 1istrik terlindung adalah pengelasan dengan menpergunakan busur nyala listrik sebagai sumber panas pencair logam. Jenis las ini yang paling banyak dipakai dimana-mana untuk hampir semua pengelasan. Untuk keselamatan kerja, maka tegangan yang dipakai hanya 17 - 45 volt saja, sedang untuk pencairan logam digunakan arus listrik hingga 500 amper. Secara umum berkisar antara 80-200 amper. Untuk mencegah oksidasi (reaksi dengan zat asam C02) bahan pengisi las (elektroda) dilindungi dengari lapisan zat pelindung (fluks atau slag). Selama proses pengelasan bahan fluks yang digunakan untuk membungkus elektroda mencair dan membentuk terak yang kemudian menutupi logam cair yang terkumpul ditempat sambungan dan bekerja sebagal penghalang oksidai. Oksidasi dicegah karena oksidasi metal merupakan senyawa yang tidak mempunyai kekuatan mekanis.
2. SAW (Submerged Arc Welding) = Las Busur Terbenam adalah pengelasan dengan busur nyala listnik. Untuk mencegah oksidasi cairan metal dan metal tambahan/logam pengisi, dipergunakan fluks/slag dalam bentuk butir-butir kecil seperti pasir, sehingga busur nyala listnik terbenam dalam urugan butir-butir tersebut. Karena panas busur nyala, butir-butir fluks mencair dan mengapung di atas cairan   metal  guna   menghindari   oksidasi.  Jenis las ini  menggunakan   elektroda-elektroda gulungan dan proses pengelasannya dapat dilaksa­nakan secara otomatis atan seini otomatis dan digunakan untuk jalur las yang besar dan panjang. Kelemahan dan las ini adalah bahwa pengelasan hanya dapat dilakukan pada posisi datar/dibawah tangan. Untuk posisi lain fluks akan jatuh berhamburan sebelum berfungsi.
3.  ESW (Elektroslag Welding) = Pengelasan Busur Terhenti. Pengelasan ini sejenis dengan SAW. Perbedaannya adalah begitu busur nyala mencairkan fluks, busur terhenti dan proses pencairan fluks berjalan terus dan menjadi bahan penghantar arus listrik (konduktif), sehingga elektroda terhubungkan dengan benda yang dilas melalui konduktor tersebut.  Panas  yang dihasilkan dari tahanan arus listrik  melalui cairan fluks/slag ini cukup tinggi sehingga dapat mencairkan bahan tambah dan logam dasar yang dilas. Temperatur di dalam kolam/kubangan las mencapal 3.5000F atau 1.925ºC. Cairan slag mengapung di atas cairan metal dan pelan-pelan mendingin dan memadat. Pada pengelasan ini volume slag dan cairan las sangat besar, sehingga jenis pengelasan ini hanya dipakai untuk pengelasan datar (flat) saja. Bahan-bahan yang akan dilas diberi jarak/gap antara 1 hingga 1,5 in. Pada awal dan akhir pengelasan dipasang suatu penampung untuk memberikan waktu yang cukup bagi fluks untuk mencair cukup banyak dan menciptakan suatu cairan slag yang konduktif.
4. Stud Welding = Las Baut Pandasi. Pada las ini elektroda berfungsi sebagai bahan yang akan dipasang/disambungkan pada bagian lain. Misalnya dalam bentuk baut yang akan disambungkan/dipasang pada badan kapal. Baut/stud terpa­sang pada benda utama melalui tiga tahap: setting posisi, pencairan ujung stud dan benda utama oleh busur nyala dan penekanan stud pada benda utama sesaat setelah busur nyala dimatikan. Pengelasan dilaksanakan dengan rnempergunakan tang las  khusus.Sebelum dilas sernua bahan harus bersih dari karat, cat, minyak/gemuk dan lain-lain. Sewaktu pengelasan tang las (Welding Gun) harus dijaga pada posisi tetap hingga jalur las mendingin. Ujung stud harus benar-­benar melekat pada dasar stud. Dasar stud harus dipanaskan terlebih dahulu sebelum fillet weld (las sudut) dilaksana kan.
5.  ERW (Electric Resistance Weld) = Las Tahanan Listrik.
     Dengan tahanan yang besar, panas yang dihasilkan oleh aliran listrik menjadi sedemikian tingginya sehingga dengan cepat dapat mencairkan logam yang akan dilas. Las tahanan ini prosesnya jauh lebih cepat dan hasilnyapun jauh lebih baik karena permukaan sambungan tetap rata jika dibandingkan dengan sambungan keling sehingga las tahanan ini menggeser pemakaian paku keling untuk penyambungan pelat-pelat yang tipis. Pada awalnya las tahanan ini hanya menggunakan elektroda diam yang menghasilkan lasan berbentuk titik. Tetapi dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, maka diciptakanlah las tahanan dengan elektroda menggelinding dan menghasilkan lasan garis (seam).
Untuk memenuhi kebutuhan dikembangkan berbagai bentuk las tahanan listrik yang meliputi antara lajan: las titik, las interval, las seam (garis) dan proyeksi. Empat macam las tersebut dalam prosesnya menerapkan panas (tahanan listrik) dan tekanan. Elektroda berfungsi sebagai penyalur arus dan penekanan benda kerja berbentuk plat. Untuk benda berbentuk batangan dipakai las upset, flash dan las percusion. Las upset merupakan las tahanan yang pertama, benda kerja ditekan satu sama lain sejak sebelum sampai sesudah arus dialirkan. Pada las flash, benda keria didekatkan sesaat sesudah arus dialirkan sehingga timbul busur nyala sesaat (flash) dan diteruskan dengan penekanan samapai selesai. Pada las percusion digunakan condensator listrik. Tekanan diterapkan sesaat sesudah arus listrik dihentikan (Alip, 1989:7).

6. EBW (Electron Beam Welding/Electron Bombardment Welding = Las Pemboman Elektron. EBW adalah suatu pengelasan yang pencairannya disebabkan oleh panas yang dihasilkan dari suatu berkas loncatan elektron yang dikonsentrasikan ataudimampatkan dan diarahkan/ditembakkan ke benda yang dilas. Pengelasan dilaksanakan di dalam ruang hampa, sehingga menghapus kemungkinan oksidasi atau kontaniinasi dengan zat kiinia lainnya. Panas yang terjadi lebih besar dari busur listrik. Proses pengelasan berlangsung lebih cepat sehingga sangat cocok untuk produksi masal. Daerah panas menjadi lebih sempit sehingga sangat cocok untuk bahan yang sensitif terhadap perubahan panas. Kwalitas lasan sangat baik dan akurasi sangat tinggi, hanya saja peralatannya sangat mahal. Oleh karena itu tidak banyak dijumpai di industri biasa