Kamis, 14 Februari 2013

Bagaimanakah Kita Memposisikan Agama Selama Ini?

   Dalam kehidupan sehari-hari kita sering meninggalkan kewajiban agama karena alasan kesibukan, kemalasan, dan lain sebagainya. Padahal idealnya agama harus menjadi bagian dari kehidupan kita di dalam berbagai aspek, profesi, dan waktu yang kita jalani, baik dalam keadaan sibuk maupun luang. Justru pada saat sibuk itulah Allah menguji keimanan dan ketaatan kita. Sebagian manusia ada yang menganggap dirinya sudah tidak membutuhkan agama lagi karena agama dipandang akan membuat dirinya semakin terikat dan terbelenggu dengan norma-norma yang yang telah digariskan.

   Sebagai contoh, seorang artis merasa tidak nyaman dalam mengekspresikan tubuh dan pakaiannya yang serba terbuka kalau yang dipakai ukuran norma adalah agama, bahkan ia mungkin akan merasa jengkel kepada agama karena dianggap membelenggu dirinya. Seorang penguasa atau pejabat juga merasa tidak nyaman dengan kebijakan yang dibuat kalau yang dipakai ukuran norma adalah agama karena agama pasti melarangnya, misalnya kebijakan tentang korupsi, lokalisasi prostitusi, perjudian, dan lain sebagainya, sekalipun di sisi lain ada argumentasi supaya tidak merajalela dimana-mana maka perlu dilokalisasi di tempat tertentu, akan hal ini juga tidak menyelesaikan masalah.

   Hal yang demikian merupakan gambaran ketidakkonsistenan manusia dalam memposisikan agama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar